defersite

Kementerian Pertahanan Tetap Ingin Beli Senjata Meski Anggaran Dipotong

Anggaran untuk Kementerian Pertahanan kena potong triliunan rupiah. Namun rencana pembelian alat utama sistem persenjataan (Alutsista) baru bakal tetap dipertahankan.




"(Usulan anggaran untuk 2017) Rp 104 triliun. Dipotong," kata Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu jelang rapat di Komisi I Gedung Nusantara II DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (13/10/2016).

Sebagaimana diketahui, pemotongan untuk Kementerian Pertahanan sebesar Rp 7,933 triliun. Pemotongan ini dilakukan karena pemerintah melakukan penghematan. Pemotongan ini berdasarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 8 Tahun 2016 tertanggal 26 Agustus 2016.

Ryamizard menyatakan pihaknya tetap fokus untuk menyediakan Alutsista dalam bentuk penambahan alat baru. Soalnya, persenjataan militer Indonesia terbilang banyak yang uzur.

"Penyediaan alat, nambah alat baru. Lihat saja yang tua-tua itu (alutsistanya), umurnya 30 hingga 40 tahun," tutur Ryamizard.

Konkretnya, kata dia, Alutsista baru yang direncanakan dibeli adalah pesawat tempur dan tank. Dia belum merinci lagi pesawat dan tank jenis apa dan dari mana yang akan dibeli.

"Pesawat lah. Ada tank, segala macam, pokoknya diganti," ujarnya.

Tak lama berselang, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmatyo datang. Dia hanya singkat berbicara sambil bergegas masuk ruang rapat Komisi I DPR, menyatakan tak ada pembelian alutsista yang dibatalkan gara-gara pemotongan anggaran.

"Enggak ada yang dibatalkan. Paling ditunda," ucap Gatot.
(dnu/erd) Sumber: Detik

Yang Direvisi dalam Belanja Militer RI Tahun 2017

Jakarta – Kementerian Keuangan mengusulkan pemotongan anggaran bagi Kementerian Pertahanan sebesar Rp 2,5 triliun dari Rp 104,4 triliun menjadi Rp 101,9 triliun di Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2017. Namun, pemangkasan anggaran ini diyakini tidak akan mengganggu kinerja Kemenhan.



“Tadi Bu Menkeu tidak hadir, jadi tidak ada keputusan dan akhirnya pembahasan anggaran tahun depan, ditunda. Karena keputusan hanya dari beliau, tidak bisa diwakilkan,” ujar Menteri Pertahanan (Menhan), Ryamizard Ryacudu di Gedung DPR, Jakarta, (10/10/2016).

Terkait pemotongan anggaran Rp 2,5 triliun di 2017, Ryamizard optimistis tidak akan mengganggu kinerja ?Kemenhan, khususnya dalam menjalankan program-program prioritasnya untuk bangsa dan negara.

“?Prioritas kami kesejahteraan, pergantian alutsista yang sudah tua, melengkapi arsenal pesawat yang kurang, contohnya bom atau rudal. Jadi tidak ada masalah,” ujar Ryamizard.

Ryamizard menuturkan, anggaran yang dipotong bukan untuk program atau kegiatan mendesak. Kegiatan mencegah terorisme, penanggulangan bencana alam termasuk di daerah perbatasan, akan menjadi prioritas.

“(Pemotongan anggaran) untuk kegiatan yang tidak mendesak, tapi alat berat untuk bencana di perbatasan masuk kategori mendesak. Untuk ke depan belum ada perang besar-besaran, apalagi 1-2 tahun tidak ada. Ancaman nyata seperti : teroris, bencana alam itu yang didahulukan ,” ujar Ryamizard.

Menteri Pertahanan mengatakan pembelian alutsista tahap II. “Sukhoi ganti, tapi tidak banyak. Kita tentara rakyar, semua yang diperjuangkan untuk rakyat dan kepentingan rakyat harus didahulukan,” tuturnya.

Kemenkeu memangkas anggaran sebesar Rp 2,5 triliun dari Rp 104,4 triliun menjadi Rp 101,9 triliun. Fokus belanja untuk pengadaan alutsista, peralatan perang, pesawat tempur yang menjadi target pelaksanaan 2017.

“Mudah-mudahan hanya penajaman saja karena masih ada yang belum optimal. Kemenhan tahu mana yang harus dikendalikan,” ujar Dirjen Anggaran Kemenkeu, Askolani.

Sumber : Liputan6.com

Wiranto Tawarkan Panser Anoa dan CN 235 ke Militer Pakistan

Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), Wiranto menerima kunjungan kehormatan dari Panglima Angkatan Bersenjata Pakistan, Jenderal Rashad Mahmood di kantornya, Selasa, 20 September 2016.



Pertemuan ini di antaranya membicarakan kerja sama militer kedua negara. "Kita juga sudah menawarkan berbagai alutsista (alat utama sistem persenjataan) yang kita produksi," kata Wiranto.

Mantan Panglima ABRI ini menjelaskan, beberapa alutsista buatan Indonesia yang ditawarkan pada militer Pakisan, di antaranya Panser Anoa, Senapan Serbu hingga Pesawat CN 235. "Mereka sudah mengerti, kita punya alutsista seperti itu," ujarnya menambahkan.

Purnawirawan jenderal bintang empat ini mengungkapkan, kerja sama militer antarkedua negara sudah berlangsung sangat lama. Bahkan, Ia mengaku punya pengalaman kerja sama dengan militer Pakistan.

"Pada saat saya masuk pendidikan Seskoad (Sekolah Staf Komando Angkatan Darat) kira-kira tahun 82 temen saya dari Pakistan sudah ada, dan itu terus menerus. Mereka kirim siswa Sesko AD, Sesko AL, Sesko AU dan Lemhanas ke Indonesia sampai sekarang," ujar Wiranto.

Yang terpenting dari pertemuan ini kata Wiranto, adalah permintaan untuk terus menjaga hubungan baik dan kerja sama militer antarkedua negara.

"Dia minta hubungan ini terus dipelihara dan dikembangkan. Ini kunjungan resmi melengkapi kunjungan terhadap Panglima TNI.” Sumber Viva

Rudal Yang Dibeli dari Cina Telat Meluncur, Pakar Militer: Cina Ingin Lemahkan Indonesia!

Insiden telat luncur rudal C705 buatan China pada latihan perang TNI AL, Armada Jaya XXXIV 2016 di Perairan Banongan, Situbondo, Jatim (14/09) mengindikasikan adanya upaya pelemahan TNI oleh pihak China.



Sinyalemen itu dilontarkan pengamat politik Ahmad Baidhowi kepada intelijen (15/09). “Insiden rudal telat meluncur di hadapan Presiden Jokowi mengindikasikan adanya skandal pembelian alutsista asal China. Hal itu juga menjadi sinyal terkait upaya China yang sengaja melemahkan militer RI,” ungkap Ahmad Baidhowi.

Menurut Baidhowi, secara logis, China tidak ingin Indonesia mempunyai armada yang kuat, terlebih lagi ada sengketa di wilayah Laut China Selatan. “China akan rugi jika Indonesia punya armada laut yang kuat, maka dibuatkan rudal model ‘kw’,” beber Baidhowi.

Ahmad Baidhowi menilai, kegagalan peluncuran rudal itu sangat memalukan bagi bangsa Indonesia. “Komisi I harus segera memanggil KSAL, Panglima TNI untuk membahas persoalan ini. Kasus ini terkait masalah kedaulatan bangsa,” papar Baidhowi.
Kata Baidhowi, insiden itu semakin menunjukkan upaya China untuk menguasai Indonesia. “Indonesia jangan hanya senyam-senyum saja. Bisa jadi peralatan tempur dari China kualitasnya abal-abal,” pungkas Baidhowi.
Panitia Latihan Perang TNI AL Armada Jaya XXXIV 2016 masih melakukan evaluasi menyeluruh terkait insiden keterlambatan meledak rudal C705.(ts/inteljn)

Pindad dan Perusahaan Jerman, Bikin Sistem Peledak Roket

Jakarta -PT Pindad menyepakati Nota Kesepahaman dengan perusahaan supplier fuze munisi Jerman, Junghans Defence, untuk sinergi di bidang sistem fuze beberapa produk munisi, jenis : mortar, artileri, tank, roket, dan amunisi angkatan laut. Fuze merupakan suatu perangkat yang menginisiasi proses peledakan pada munisi dalam suatu kondisi tertentu.




Penandatanganan Nota Kesepahaman menjadi bagian dari agenda kegiatan Presiden Joko Widodo dalam acara Forum Bisnis Indonesia-Jerman di Berlin, 18 April 2016. Pindad menjadi salah satu BUMN yang mendampingi kunjungan kerja Presiden Joko Widodo ke negara-negara Eropa.

“Pindad dan Junghans Defence sepakat melakukan sinergi di bidang solusi sistem fuze untuk amunisi : mortar, artileri, tank, roket, dan amunisi angkatan laut, yang akan dimulai tahun ini dengan investasi awal US$ 5 juta dan di masa depan bisa mencapai US$ 20 juta,” ujar Direktur Utama Pindad, Silmy Karim, Jumat (22/4/2016).

Penandatanganan Nota Kesepahaman ini sebagai salah satu bentuk komitmen Pindad untuk melakukan ekspansi pemasaran ke luar Indonesia.

Beberapa tahapan kerja sama awal telah direncanakan bersama dengan Junghans Defence, antara lain persiapan alih teknologi mekanikal mortar fuze, menyiapkan lini produksi dan perakitan di Pindad, serta pemberian hak ekspor dan pemasaran kepada Pindad dengan fokus pasar di luar Indonesia, khususnya wilayah Asia Pasifik.

“Ke depannya, Pindad dapat memasarkan fuze hasil diproduksinya ke pasar di luar Indonesia, terutama ke negara-negara di wilayah Asia Pasifik,” ujar Silmy.

Pindad menghabiskan biaya yang cukup besar untuk pengadaan fuze ini dan hal ini menunjukan pentingnya kemampuan untuk dapat memproduksi fuze secara mandiri. Alhasil, kemampuan industri pertahanan dan keamanan dalam negeri meningkat dan total devisa yang dikeluarkan negara untuk pengadaan fuze dapat dihemat.

“Dalam setahun, Pindad mengeluarkan biaya sekitar US$ 4 juta untuk pengadaan fuze. Kerja sama ini diharapkan tidak hanya mendukung Pindad untuk meningkatkan kemampuan industri pertahanan dan keamanan, tetapi juga dapat menghemat devisa yang dikeluarkan negara,” ujar Silmy.

Penandatanganan Nota Kesepahaman menjadi salah satu agenda Forum Bisnis Indonesia-Jerman, kegiatan yang mempertemukan investor dan pemerintah kedua negara untuk membicarakan investasi jangka panjang, dengan fokus utama pada bidang ekonomi. Beberapa perusahaan Indonesia turut menandatangani kesepakatan kerja sama, antara lain PT Aneka Tambang, Tbk dengan Ferrostaal dan PT PLN dengan Siemens AG.

Sumber : Finance.detik.com

Seberapa kuat TNI AU dibanding Angkatan Udara Malaysia & Australia?

Memasuki era reformasi, TNI AU terus berbenah diri. Salah satu fokus angkatan ini adalah memperkuat kualitas tempur mereka dengan membeli alutsista baru dari sejumlah negara.

Saat ini, TNI AU telah memiliki 7 skadron tempur, 4 skadron pesawat angkut dan 3 skadron helikopter. Untuk radar, TNI AU telah memiliki 22 radar di seluruh Indonesia. Namun, jumlah ini belum memenuhi minimum essential force yang dibutuhkan.



“Idealnya kita memiliki restra untuk sampai 2024, berbasis minimum essential force. Untuk skadron tempur misalnya, kita butuh 11, sehingga masih perlu 4 skadron lagi. Angkut butuh enam, masih kurang dua dan heli butuh empat tapi baru punya dua. Sementara radar kita butuh 32, sekarang baru 22, itu baru kekuatan minimum, bukan kekuatan ideal,” papar Kadispenau Marsma Hadi Tjahjanto saat berbincang dengan merdeka.com, Rabu (8/4) kemarin.

Jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga, yakni Malaysia dan Australia, kekuatan yang dimiliki Indonesia sudah cukup memadai. TNI AU sudah memiliki sumber daya manusia yang siap melaksanakan misi, termasuk alutsista berkualitas seperti pesawat Sukhoi dan F-16.

“Kalau melihat dari latihan-latihan dengan Australia, kita mampu untuk bisa menandingi dia. Itu kualitas kita,” ungkapnya,

Kini, TNI AU tengah berencana untuk mengganti pesawat F-5 Tiger dengan pesawat jenis baru generasi 4,5. Generasi terbaru ini dipercaya dapat membuat Indonesia mampu menghadapi segala ancaman dari negara asing.

Lalu, seperti apa sebenarnya kekuatan TNI AU dengan dua negara tetangga itu, berikut ulasannya:

1. Jet tempur
TNI AU sampai saat ini masih mengoperasikan 12 unit F-16 Fighting Falcon Block 15 A/B OCU. Indonesia akan menambah jumlahnya menjadi 24 buah dengan varian C/D 52ID. Selain produk barat, Indonesia juga memiliki pesawat buatan Rusia, antara lain 5 unit Sukhoi Su-27 SK/SKM dan 11 Su-30 MK/MK2. Selain itu, masih ada 16 unit jet tempur KAI T-50 Golden Eagle dan 12 unit EMB 314 Super Tucano.

Sementara, Angkatan Udara Australia diperkuat 24 unit F/A-18F Super Hornet dan 71 unit F/A-18A/B Hornet . Selain kedua pesawat itu, negara ini masih memiliki dua unit F-35A Lightning II yang digunakan sepenuhnya untuk pelatihan.

Sedangkan Malaysia diperkuat 18 unit Su-30MKM, 8 unit F/A-18 Hornet, 12 unit Mikoyan MiG-29, 20 unit BAE Hawk dan 18 unit Northrop F-5. Beberapa dari pesawat ini sempat menjalani modernisasi untuk meningkatkan kemampuan tempurnya di udara.

2. Jumlah personel
Dari sudut kekuatan personel, TNI AU memiliki 37.850 personel yang masih aktif berdinas. Hingga saat ini, Indonesia juga memiliki 510 pesawat, 110 di antaranya adalah pesawat tempur.

Sedangkan Australia tercatat memiliki personel aktif sebanyak 14.120 orang, dan 4,273 personel cadangan. Untuk alutsistanya, negara ini memiliki 265 pesawat, baik pesawat tempur, patroli maupun angkut.

Sementara, Malaysia memiliki personel aktif sebanyak 15 ribu orang. Menurut situs globalfirepower.com, Malaysia diperkirakan memiliki 217 pesawat, termasuk 97 jet tempur.

3. Indeks kekuatan
Meski hubungan antara Indonesia, Malaysia dan Australia cukup dekat, namun ketiga negara ini saling berlomba untuk memperkuat sistem pertahanan udaranya masing-masing.

Berdasarkan situs analisa kekuatan militer dunia, globalfirepower.com, Indonesia menempati posisi cukup baik yakni urutan ke-12. Rating kekuatan Indonesia sebesar 0,5231. Hal ini dinilai dari kekuatan udara, darat, dan laut. Selain itu jumlah personel dan kemampuan belanja pertahanan.

Sementara Australia berada satu tingkat dari Indonesia. Indeks kekuatan dari Negeri Kangguru sebesar 0,5281.

Dibanding kedua negara di atas, Malaysia justru berada di peringkat 35. Negara ini mendapat indeks kekuatan sebesar 0,9612.
Sumber : Merdeka.com

Elang Pengintai Skadron Udara 51 TNI AU



Magetan – Skadron Udara 51, Lanud Supadio (Pontianak) yang mengawaki Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA), dirancang untuk melakukan berbagai ragam misi : Intelligence, Surveillance, Reconnaissance (ISR) dan mendukung misi medan perang di level taktis dan strategis. Hal ini disampaikan Komandan Skadron Udara 51 Lanud Supadio, Letkol Pnb Arie Sulanjana, ST, pada paparan briefing pagi di Lanud Iswahjudi, Magetan- Jawa Timur, Rabu (3/8/16).

Komandan Skadron Udara 51 Lanud Supadio, Letkol Pnb Arie Sulanjana, ST menyatakan bahwa system PTTA terdiri dari 3 komponen utama, yakni : Unmanned Air Vehicle (AUV), Ground Control Station (BCS) dan Ground Data Terminal (GDT). Adapun crew yang mengawaki UAV Skadron Udara 51, meliputi : Mission Comander, Internal pilot, External pilot, Chief Technician, Technician dan Payload Operator. Pengoperasian bisa dilakukan secara mobile sesuai area misi pengintaian yang dilaksanakan.

Pesawat terbang tanpa awak milik Skadron Udara 51, menurut Letkol Pnb Arie Sulanjana, ST, memiliki spesifikasi rentang sayap 8,3 meter, panjang 4,5 meter, tinggi 1,3 meter. PTTA ini memiliki bobot max 230 kg, beban max 50 kg, daya jangkau 200 km, dengan daya tahan 12 jam.

PTTA Skadron Udara 51, Lanud Supadio, diresmikan dan mulai operasional Desember 2015 dan telah melaksanakan operasi pengintaian perbatasan di Natuna terhadap pelanggar perbatasan wilayah NKRI, menghalau illegal fishing, serta mendukung operasi penumpasan teroris kelompok Santoso di Tinombala Poso, ujar Letkol Pnb Arie Sulanjana.

Letkol Pnb Arie Sulanjana, ST., memberikan paparan tentang PTTA, pada briefing pagi di ruang Tedy Kustari Lanud Iswahjudi, Rabu (3/8/16). (Photo Penerangan Lanud Iswahjudi).Keterangan Gambar : Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) Skadron Udara 51 Lanud Supadio (Pontianak), melaksanakan misi pengintaian, Rabu (3/8/16). (Photo Penerangan Lanud Iswahjudi).

Briefing ini dihadiri oleh Komandan Lanud Iswahjudi Marsekal Pertama TNI Andyawan M.P., S.I.P., M.Tr (Han), Danwing 3 Lanud Iwj, Kolonel Pnb Irwan Pramuda, para kepala Dinas, serta segenap pejabat dan seluruh penerbang tempur Lanud Iswahjudi.

Sumber : Lanud-iswahjudi.mil.id

Bagaimana Pesawat Tempur Bisa Keluarkan Sonic Boom? Ini Penjelasan TNI AU

Jakarta - Pesawat tempur TNI AU melakukan latihan di kawasan Karanganyar dan sekitarnya. Suara keras bak ledakan didengar warga Solo, Karanganyar, dan sekitarnya. Sempat disangka ada sesuatu mulai dari bom hingga pesawat jatuh.

TNI menegaskan bunyi keras itu adalah sonic boom. Apa itu?



"Jadi ada 4 pesawat agresor dicegat oleh pesawat intercepter, di dalam kegiatan manuver itu kadangkala kita tanpa sadar melebihi kecepatan suara, nah itulah terjadi bunyi yang dinamakan sonic boom. Jadi masuknya melebihi kecepatan suara itu akan mengakibatkan terjadinya perpecahan udara di mana dia sesaat terbuka dan bergemuruhh kembali sehingga memunculkan suatu ledakan," jelas Asisten Operasi AU Marsda TNI Barhim di Gedung Persada Purna Wira Halim Perdana Kusuma Jl Halim Perdana Kusuma usai pers confrence acara penandatanganan Kerjasama Airnav dan AU, Selasa (30/8/2016).

Barhim menjelaskan, peristiwa itu yang kemudian dinamakan sonic bom yang itu bisa dibuat dengan sengaja dan juga bisa tidak.

"Ya karena yang sifat kita ini saling mengejar, kadangkala pesawat kita ini tanpa kita sadari kita masukkan ke full burner, ya tanpa kita sadari masuk dengan sendirinya, yang melebihi kecepatan suara. Sehingga muncullah bom itu yang seperti hari ini muncul di detik," jelasnya.

Menurutnya, sonic boom itu merupakan bunyi pesawat saat sedang latihan pertempuran dan dengan kecepatan penuh.

" Ya itu pesawat-pesawat yang ada di Madiun. Jadi bunyi itu adalah dari pesawat yang sedang latihan. Perubahan dari kecepatan sub Sonic ke super Sonic jadi dia melebihi kecepatan suara terjadilah perpecahan udara, di mana udara itu pecah begitu dia kembali akan memunculkan suara. Itu kalau di bawah 10.000 feet gedung-gedung kacanya akan pecah. Tapi ini ketinggian rata-rata diatas 10.000 feet," jelasnya.

Lalu apa bedanya sonic boom dengan kecepatan biasa?

"Nah ini dia nih, mungkin kamu tidak tahu masalah kecepatan, kecepatan itu ada sub Sonic, super Sonic, trans Sonic, jadi macam-macam kecepatan lah, jadi perubahan dari sub Sonic ke super Sonic ini kan melebihi satu lompatan, lompatan itu melebihi kecepatan suara. Nah kecepatan suara itu dalam seper sekian detik terjadi perpecahan udara. Udara terpecah begitu dia kembali akan memunculkan bunyi. Itu saja yang bisa saya jawab," tutupnya. Sumber: Detik

Inilah Uji Coba Roket Vampire Milik TNI AL Yang Bikin Takut Negara Lain. Lihat Penampakannya


TNI Angkatan Laut melakukan uji coba alutsista terbaru mereka roket Vampire. Alusista terbaru tersebut baru saja dibeli dari Rep. Ceko. Roket Vampire sendiri memiliki kaliber 122 mm


Video diatas memperlihat uji coba yang berlangsung di pantai Baronang, Situbondo. Senjata ini jauh lebih unggul canggih dari jenis sebelumnya RM 70 Grad karena bisa dioperasikan secara digital.
Ujicoba roket ini bisa dibilang sukses dan disaksikan langsung KSAL laksamana Ade Supandi. : Sumber: http://blog.batikindonesia.com/42457/#.V8Y6USnbvIU

TNI AD Kembangkan Cat Antiradar dari Ban Bekas

Barang bekas sering kali dianggap sebagai benda tak berharga. Namun, pandangan tersebut berubah sejak Kolonel Punto bertugas di Korem 044 Palembang, Sumatera Selatan, pada Mei 2016.

TNI AD Kembangkan Cat Antiradar dari Ban Bekas


Dengan sebuah teknik khusus, ia menyulap ban bekas menjadi bahan cat antiradar. Meski masih dalam tahap uji coba, saat ini penemuan tersebut bakal terus dikembangkan.


"Ide dari Komandan Korem Kolonel Punto. Diambil dari ban bekas, dibuang kawat-kawatnya. Lalu kita proses," ujar Letkol Wahyu, kasi ops Korem 044 Palembang, saat memaparkan penemuan itu di Rakornis TMMD, di Balai Samudera, Jakarta Utara, Rabu (24/8/2016).

Wahyu memaparkan, karena dari ban bekas, serbuk cat antiradar itu pun berwarna hitam. Ia optimis jika sebuah bangunan atau kapal diolesi benda tersebut, maka radar musuh tidak akan bisa mendeteksi.

"Bangunan kita cat pakai (serbuk) itu tidak terdeteksi. Kapal juga," imbuhnya.

Sebelum diperkenalkan ke KSAD yang membuka Rakornis TMMD hari ini, Wahyu mengaku telah menguji temuan cat anti radar tersebut. Kala itu sebuah bangunan diolesi dan dicoba dideteksi dengan sebuah sinyal sonar. Namun, reaksinya justru menolak sinyal.

"Ini menolak sinyal. Baru kita uji pakai sinyal kita, pakai radar sonar," tandasnya.

Indonesia Dapat ToT Besar, Jika Ambil Pesawat Eurofighter

Perusahaan bidang pertahanan, keamanan, dan ruang angkasa Inggris, BAE Systems, membuka peluang sebesar-besarnya bagi kerja sama dan transfer teknologi dengan Indonesia. BAE Systems siap membantu Pemerintah Indonesia meningkatkan kemampuan industri pertahanan stastegis dan berbagai sektor terkait lainnya.



Kepala Komunikasi BAE Systems Asia, Simon Astley, mengatakan hal ini saat berkunjung ke kantor redaksi Angkasa di Kebon Jeruk, Jakarta, Jumat (19/06/2016). Dalam kunjungannya, Simon Astley didampingi Diektur Regional BAE Systems Indonesia Michael Salkeld dan Pengembangan Bisnis Yunita Kresnawati.

Simon menjabarkan, sebagai sebuah negara yang besar dengan berbagai potensi yang dimiliki, Indonesia dapat meningkatkan kemampuan industri pertahanan strategisnya. Produk-produk alutsista untuk TNI nantinya dapat dibuat di dalam negeri dan Indonesia tidak harus membelinya lagi dari luar. “Tentu untuk tahap awal harus ada kerja sama terlebih dahulu dimana di dalamnya ada proses transfer teknologi dari negara pembuat alutsista,” jelas Simon Astley.

Kerja sama industri strategis yang menumbuhkan industri lokal, lanjutnya, mampu meningkatkan pendapatan negara dengan nilai yang cukup besar. Ia mencontohkan, kemitraan BAE Systems dengan Arab Saudi memberikan kontribusi 9,3 miliar riyal pada tahun 2014. “Setiap 10 pekerjaan baru yang dibuat oleh BAE Systems bersama partner di Arab Saudi, mendukung 46 pekerjaan lainnya,” jabar Astley.

Indonesia sendiri, di mata Bagi BAE Systems, bukanlah teman baru. Kerja sama pihak pabrikan dengan Indonesia sudah terjalin sejak lama, misalnya sejak TNI Angkatan Udara menggunakan pesawat tempur Hawk Mk.53 maupun Hawk 100/200 era 1980 dan 1990-an. Kemudian TNI Angkatan Laut sejak 2014 mengoperasikan tiga kapal fregat ringan multiperan (MRLF) KRI Bung Tomo -class buatan BAE System Maritime – Naval Ships.


Michael Salked memaparkan, dengan PT Dirgantara Indonesia BAE Systems terlibat dalam beberapa proyek sebagai subkontraktor perusahaan Airbus. “Kami tidak mengerjakan pembuatan rangka pesawat, tapi lebih kepada bidang avionika maupun sistem pendukung pesawat,” ujarnya. Reputasi BAE Systems di dunia terbilang bagus dan terpercaya, oleh karenanya perusahaan ini juga memenangkan tender peningkatan kemampuan (upgrade) pesawat tempur F-16 Fighting Falcon buatan Lockheed Martin di sejumlah negara pemakai.

Dalam hal kaitan dengan pesawat tempur Eurofighter Typhoon yang ditawarkan kepada Indonesia, BAE Systems terlibat misalnya dalam pembuatan helmet mounted display (HMD) Striker II. Helm digital ini sangat medukung kerja pilot mulai dari sisi kenyamanan pemakaian hingga fungsi penggunaannya dalam pertempuran. “Kami termasuk menawarkan transfer teknologi HMD ini kepada Indonesia bila Indonesia membeli Typhoon,” ungkapnya.

Proyek lain yang dikerjakan oleh BAE Systems di Indonesia meliputi kerja sama dengan PT Pindad dalam hal pembuatan perangkat lunak dan perangkat keras untuk Divisi Keamanan Siber (Cyber Security Division). Demikian juga kerja sama lain dengan PT LEN, PT PAL, dan lainnya.


BAE Systems di seluruh dunia memiliki karyawan sebanyak 83.400 orang. Pasar utama BAE Systems (International) Limited yang merupakan gabungan perusahaan-perusahaan besar terdahulu, saat ini tedapat di Inggris, Amerika, Australia, India, dan Arab Saudi. Negara-negara di kawasan Asia Tenggara menjadi target pasar terkininya. BAE Systems Asia berkantor pusat di Kuala Lumpur, Malaysia dengan ditopang oleh 350 staf.

“Kami akan hadir nanti dalam penyelenggaraan Indo Defence 2016 bulan November di Jakarta. BAE Systems terbuka untuk melakukan kerja sama. Kami juga akan tampilkan produk-produk yang kami tawarkan,” tutup Astley.

Sumber : Angkasa.co.id

Indonesia Timur Hanya Punya 2 Kapal Selam, Minimal 6

Papua – Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengatakan, TNI Angkatan Laut tidak memiliki alat utama sistem senjata / alutista yang mumpuni di Indonesia bagian timur. Bahkan sampai saat ini TNI hanya memiliki dua unit kapal selam, untuk menjaga perairan Indonesia bagian Timur.



“Kapal selam jujur hanya punya dua. Satu diperbaiki, satu jalan,” ujar Jenderal Nurmantyo saat mengunjungi Pangkalan Angkatan Laut di Biak, Papua, Sabtu (30/4/2016).

Dengan dua unit kapal selam itu tentu saja sambung Panglima TNI, pihaknya tidak akan maksimal untuk mengawasi perairan Indonesia Timur. Apalagi, perairan di Indonesia bagian timur banyak bersentuhan dengan batas negara.

“Dua kapal selam itu ganti-gantian beroperasi. Sementara negara ini maritim dan besar,” lanjutnya.

Jenderal Gatot Nurmantyo menilai, minimalnya TNI AL harus memiliki setidaknya enam unit kapal selam di wilayah Indonesia bagian timur. “Penambanahannya kalau kami punya kesatuan yang mampu berperang sendiri saja minimal yang depan itu tiga dan di belakang tiga. Ya minimal enam,” ujar Panglima TNI.

Sumber : Fajar.co.id

Beginilah Rekayasa Kendaraan Tempur Pindad



Pindad terus melakukan ujicoba dan rekayasa kendaraan tempur buatan , agar memiliki fire power yang lebih signifikan dan bisa memenuhi kebutuhan militer modern.




Salah satu kunci sukses industri militer adalah bisa mengikuti trend pasar dan memahami kebutuhan militer sekarang dan masa depan.

Militer modern membutuhkan kendaraan tempur yang ringkas, mobile, gesit, fully protected, namun mematikan.

Jika sebelumnya, Pindad konsentrasi mengembangkan Armored Personnel Carrier (APC), maka kini Pindad bergerak maju dengan mengembangkan Infantry Fighting Vehicle (IFV). Pindad pun berencana melengkapi IFV mereka dengan rudal yang ditargetkan bisa ditampilkan ke publik pada tahun 2017, mendatang.

Photos : Defence.PK

Senjata Sangar Bikinan Tanfoglio, Perusahaan Alutsista Indonesia yang Tak Kalah Edan dari Pindad

Selama ini kita hanya mengenal Pindad sebagai produsen alutsista dalam negeri. Padahal masih ada satu lagi yang juga tak kalah hebatnya. Ya, namanya adalah Tanfoglio atau lengkapnya Tanfoglio Indonesia Jaya. Perusahaan satu ini bisa dibilang sangat greget. Pasalnya, mereka lah sedikit dari produsen alutsista swasta di Indonesia.

Tanfoglio sendiri bukanlah pemain baru. Brand ini berkembang di Italia kemudian masuk ke Indonesia. Di sini kemudian perusahaan itu berkembang dan kena sentuhan dalam negeri. Bukti nyatanya adalah deretan senjata-senjata buatan mereka yang disemati nama ala Indonesia. Soal produk, senjata bikinan Tanfoglio juga tak kalah gila dari buatan Pindad.

Satu lagi yang gila dari Tanfoglio adalah senjata mesinnya yang bernama Eli Gun. Mungkin sekilas sama seperti machine gun kebanyakan, tapi yang satu ini benar-benar gila. Salah satunya adalah kemampuannya melontarkan sekitar 3400 peluru dalam semenit.

Tak hanya itu, Eli Gun juga dibekali dengan berbagai perlengkapan gila. Mulai dari feed system yang lebih baru, sampai compability yang lebih luas. Untuk senjata yang macam begini di Indonesia yang buat hanya Tanfoglio saja. Pindad belum memilikinya.





Berikut spesifikasi Eli Gun :

Kaliber : 7,62 x 51 mm
Panjang keseluruhan : 96,5 cm (38 inci)
Panjang laras : 59,7 cm (23,5 inci)
Tinggi : 28,5 cm (11,2 inci)
Lebar : 34 cm (13,4 inci)
Berat : 19,5 kg (43 pon)
Berat total sistem : 30,9 kg (68 pon)
Sistem pengisian : Sabuk amunisi 7,62mm
Barrel rate of twist : 1: 10
Mode tembak : Hanya full auto

Kecepatan tembak : Ideal 3400 ppm, kisaran 3000-4000 peluru per menit
Kecepatan akselerasi : 0,5 detik
Kecepatan deselerasi : 0,4 detik
Daya yang dibutuhkan : DC AT 38 AMPS 24 volt
Operasi : Kekuatan listrik dari luar (eksternal)
Umur laras : Lebih dari 200.000 tembakan
Umur sistem : Sekitar 1.700.000 tembakan
Kekuatan tolak balik : 3000 ppm-200 pon, 3200 ppm-235 pon, 4000 ppm-235 pon
Harga : Berkisar USD 150.000-USD 300.000


Dari spesifikasi yang diberikan, bisa jadi minigun ini menjadi saingan M134 Minigun buatan AS. Mari kita lihat spesifikasi M134 Minigun:




Berat : 39 kg, 19 kg versi ringan
Panjang : 801,6 cm
Panjang laras : 558,8 cm
Cartridge : 7,62x51mm NATO
Kecepatan tembak : 2000-6000 ppm
Kecepatan tembak : 853 m/s
Jangkauan maksimum : 1000 meter

Dari perbandingan spesifikasi antara Eli Gun dan M134 Minigun, dapat dilihat keduanya sangat bersaing. Namun apa daya, TNI justru memilih untuk membeli 20 buah M134 minigun dibanding Eli Gun. Malah, beberapa negara Timur Tengah sudah memesan sampai 200 pucuk total yang dibeli. Ironis, bukan?

Semua kembali kepada pemangku jabatan, kenapa lebih memilih senjata buatan luar negeri dibanding di dalam negeri. Tetapi, jika M134 dibeli untuk keperluan reverse-engineering (dibongkar dan dipelajari) saya rasa itu hal yang lumrah.(*)


Sumber:http://alutsista.xyz/senapan-mesin-minigun-buatan-indonesia-tidak-kalah-hebat-dengan-buatan-asing/

Gawat..!! Drone Target Banshee Milik Asing Jatuh di Kepulauan Riau. Sebarkan..!!

Komandan Pangkalan Udara Roesmin Nurjadin Pekanbaru, Marsma TNI Henri Alfiandi, mengatakan bahwa pesawat tanpa awak yang ditemukan di laut Kepulauan Riau, Kamis (31/03) sore kemarin, bukanlah milik TNI AU. Ia pun menjelaskan bahwa jika dilihat dari gambarnya, pesawat itu merupakan Drone Target.



Drone Target biasanya digunakan sebagai eksperimen untuk latihan menembak target sasaran (pesawat). Menurut Marsma Henri, drone itu mungkin gagal kembali, hingga akhirnya jatuh ke laut.Drone Target itu merupakan produk buatan Meggitt Defence Systems, satu perusahaan asal Inggris yang mengembangkan produk aviasi untuk keperluan pertahanan. Drone Target Banshee itu memiliki kecepatan maksimum 200 knot dan diluncurkan dengan menggunakan katapel dari dek kapal. Drone Target dapat digunakan berkali-kali dengan jangka waktu penggunaan hingga 25 tahun.Meggitt Banshee merupakan satu sistem target yang menyediakan simulasi penembakan untuk pelatihan senjata pertahanan udara, baik dari darat maupun dari laut.Pesawat tanpa awak yang ditemukan nelayan di perairan Kepulauan Riau pada bulan November 2012. (Noor Kanwa/Batam Pos/JPNN)

Brunei Darussalam dan Malaysia adalah negara pengguna Drone Target di Asia Tenggara. Brunei sudah menggunakan Drone Target Banshee sejak tahun 1987 dan menambahnya pada tahun 2010. Sedangkan Malaysia, sudah menandatangani kontrak dengan Meggitt Defence Systems pada tahun 2012, untuk pengadaan Drone Target Banshee selama lima tahun.

Walau fungsi utama Banshee adalah drone, namun Indonesia harus tetap waspada. Alasannya, Meggitt ternyata mengembangkan Banshee dengan kemampuan tambahan jika diperlukan. Kemampuan itu meliputi angkut chaff & flare, penjejak infra merah untuk mengarahkan rudal, serta kamera untuk pencitraan. Banshee mampu melakukan operasi militer terbatas.
GoRiau.com

9 Kali Berturut-turut, TNI AD Sabet Juara Umum Lomba Tembak di Australia

TNI Angkatan Darat kembali menorehkan prestasi gemilang di pentas internasional dengan menjadi juara umum lomba tembak antar-angkatan darat yang digelar Royal Australian Army bertajuk Australian Army of Skill Arms at Meeting (AASAM).


Foto Kompas.com

Dalam lomba yang diikuti 20 negara tersebut, TNI AD menjadi juara umum dengan meraih 23 medali emas dari 50 medali emas yang diperebutkan.

AASAM digelar selama 16 hari, mulai dari 3 Mei sampai 19 Mei 2016, di Puckapunyal Military Range, Victoria, Australia.

Selain Indonesia, negara yang ikut berpartisipasi dalam lomba tembak internasional tahunan ini antara lain Amerika Serikat, Perancis, Kanada, Inggris, Australia, China, Jepang, Uni Emirat Arab, Papua Niugini, Malaysia, Singapura, dan Korea Selatan.

Kepala Bidang Penerangan Umum Puspen TNI Kolonel Czi Berlin G mengatakan, anggota kontingen TNI AD pada AASAM 2016 ini berjumlah 19 orang. Kontingen tersebut dipimpin oleh Mayor Inf Syafruddin (Akmil 2000), yang sehari-hari menjabat Kasiops Sops Divisi 1 Kostrad.

Adapun Komandan AASAM 2016 adalah Letkol Angus Bell selaku perwira menengah dari Angkatan Darat Australia.

"Selama berpartisipasi pada lomba tembak AASAM, TNI AD senantiasa menjadi juara umum sejak pertandingan di Puckapunyal 2008, dengan menggunakan senjata jenis SS-2 V4 buatan PT Pindad yang merupakan senjata organik pasukan Kostrad," ujar Kolonel Czi Berlin, seperti dikutip situs resmi TNI.

Sementara itu, posisi runner-up diraih oleh kontingen Angkatan Darat China dengan perolehan 9 emas. Adapun peringkat ketiga yaitu kontingen dari Angkatan Darat Jepang yang memperoleh 4 medali emas.

AASAM dimulai tahun 1984 di Singleton, Pusat Pendidikan Infanteri Angkatan Darat Australia. Beberapa materi lomba yang diperlombakan meliputi Senapan, Senapan Otomatis (SO), Pistol, dan Sniper.

Indonesia dalam hal ini TNI AD baru mengikuti AASAM pada tahun 1996/1997. Dalam sejarah AASAM, TNI AD sejak tahun 2008 hingga 2016 selalu menjadi juara umum.
Kolonel Czi Berlin menambahkan bahwa keberhasilan TNI AD ini menunjukkan profesionalisme para prajurit TNI tidak kalah dengan prajurit negara lain, seperti United States Marines Corps (USMC), US Army, Anzac, Inggris, Perancis, China, dan Australia.

"Yang lebih membanggakan lagi bahwa senapan yang digunakan untuk menembak di AASAM adalah jenis SS-2 V4 buatan PT Pindad, salah satu industri strategis dalam negeri kebanggaan anak bangsa Indonesia," kata Kolonel Czi Berlin.

Pangkostrad Letjen TNI Edy Rahmayadi turut hadir dalam penutupan lomba dan penyerahan medali AASAM.

Pangkostrad menekankan kepada Tim Lomba AASAM TNI AD agar lebih meningkatkan kemampuannya dan tidak lengah. Pasalnya, pada AASAM 2017 akan lebih banyak negara yang berpartisipasi. Diperkirakan 35 negara akan mengikuti lomba AASAM 2017. Sumber: Kompas.com

TNI AU Incar Pesawat Militer Airbus A400M Seharga Rp. 2,6 Triliun

Kementerian Pertahanan berencana membeli beberapa militer pesawat angkut kelas berat Airbus A400M. Pesawat A400M adalah pesawat angkut Airbus yang paling bermasalah.



Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menyampaikan kepada kantor berita Reuters rencana pembelian beberapa pesawat angkut militer teranyar milik Airbus. Satu pesawat A400M harganya sekitar 2,5 triliun Rupiah.

"Saya punya rencana membeli A400 dari Eropa ... tetapi hanya sejumlah kecil. Tidak perlu membeli banyak," kata Menteri Ryamizard Ryacudu tanpa rincian lebih lanjut.

A400M adalah pesawat Airbus yang paling bermasalah. Pembuatannya terus-menerus mengalami keterlambatan dan anggarannya beberapa kali direvisi sehingga membuat pemesan di eropa, antara lain militer Jerman Bundeswehr kesal.

Foto Arsip Cockpit A400M

Satu pesawat A400M jatuh di Spanyol tahun lalu dan menewaskan empat awak pesawat. Beberapa negara lalu menghentikan sementara pengoperasian pesawat itu.

Seorang juru bicara dari Airbus Defence and Space, yang bertanggung jawab untuk produk militer perusahaan dirgantara Eropa itu mengatakan Reuters lewat mail, Airbus tidak bisa mengomentari promosi penjualan tertentu, tapi perusahaan itu "cukup yakin " angka penjualan A400M meniongkat di Asia Tenggara.

Satu-satunya negara di luar Eropa yang saat ini mengoperasikan A400M adalah Malaysia, setelah Afrika Selatan tahun 2009 membatalkan pesanannya. Negara pengguna A400M saat ini adalah Jerman, Prancis, Turki, Amerika Serikat, dan Malaysia.

Foto Arsip Airbus A400M

A400M dikembangkan oleh tim dari Spanyol dan enam negara Eropa lainnya - Belgia, Inggris, Perancis, Jerman, Luksemburg dan Turki - dengan biaya 20 miliar euro ($ 23000000000). Semua negara itu adalah anggota NATO.

Pesawat A400M mengisi celah pasar pesawat angkut militer, antara pesawat Lockheed Martin C-130 Hercules berukuran kecil, yang juga banyak beroperasi di Indonesia, dan pesawat Boeing C-17 kargo jet yang lebih besar.

Menhan Ryacudu juga mengatakan, pemerintah juga sudah menyetujui pembelian delapan jettempur buatan Rusia jenis Sukhoi Su-35. Dia menambahkan, harganya saat ini sedang dinegosiasikan.

Pesawat Airbus A400M jatuh di selatan Spanyol ketika melakukan uji coba terbang, 9 Mei 2015

Indonesia awalnya berencana membeli sekitar 12 jet tempur Rusia untuk menggantikan pesawat Northrop F-5 yang sudah tua. Jet tempur baru itu akan melengkapi armada pesawat tempur F-16, Sukhoi Su-27 dan Su-30, yang merupakan tulang punggung armada tempur TNI Angkatan Udara.

Menguji Senjata Baru Pindad Untuk Operasi Militer Khusus

PT Pindad meluncurkan amunisi versi terbaru kaliber 5.56 mm sub-sonic. Amunisi kaliber kecil ini memiliki kebisingan rendah dan sangat baik digunakan dalam operasi-operasi militer khusus.



"Ini kan silent, senyap, menyusup sangat cocok untuk operasi-operasi khusus," ucap Silmy di Lapangan Tembak 1.000 meter milik PT Pindad, Turren, Malang, Rabu (11/5/2016).

Silmy menambahkan, amunisi subsonic tekanannya tidak sama dengan peluru biasa. Pengguna pun tidak perlu melakukan kokang ulang saat menembak.


SS2 V7
© 2016 money.id/Istimewa

Selain amunisi 5.56 mm subsonic, PT Pindad juga meluncurkan senjata SS2 V7 Subsonic. Diharapkan senjata dan amunisi terbaru ini dapat menjadi produk yang dapat membawa nama baik Indonesia di bidang industri strategis.

"Jadi hari ini kita launching SS2 Subsonic dan peluru 5.56 subsonic. Kita bertugas untuk kemandirian, untuk pembelian kita harapkan Kemhan maupun users (pengguna) dapat memilih produk-produk yang dibuat oleh anak bangsa," harapnya.

Tim Money.id berkesempatan melihat pengujian SS2 V7 Subsonic dan Munisi 5.56 mm yang langsung dicoba oleh mantan anggota Komite Kebijakan Industri Pertahanan ini. Dua peluru ini nyaris tak terdengar saat ditembakkan ke plat baja yang sudah disiapkan.

Selesai pengujian, Silmy pun memperlihatkan video pengujian senjata MP7, silencer dan munisi subsonic yang pernah ia coba. Perbedaan kebisingan udara pun terlihat, SS2 V7 dan amunisi 5.56 mm subsonic buatan PT Pindad dinilai lebih baik.

"Ini hari pertama kali saya coba langsung amunisi subsonic. Saya pernah mencoba MP5 dan MP7 menggunakan silencer dan peluru subsonic. Setelah pengujian hari ini saya sangat terkejut karena ekspetasi saya awalnya tidak begitu senyap," imbuhnya.

SS2 V7 dan amunisi 5.56 mm Subsonic akan segera dilakukan sertifikasi agar bisa diproduksi massal. Meski belum menyiapkan target, PT Pindad optimis 2 produk barunya ini akan menjadi batu loncatan menuju kemandirian. Sumber: money.id

Dunia Bengong! Indonesia Ekspor Kapal Perang SSV Tercanggih Ke Filipina

PT PAL Indonesia segera meluncurkan satu unit kapal perang pesanan Filipina jenis "Strategic Sealift Vessel"(SSV), yang proses pengerjaannya sudah mencapai 90 persen, pada 18 Januari 2016.

Direktur Produksi PT PAL Indonesia, Edy Widarto mengatakan, peluncuran tersebut rencananya dihadiri Presiden Joko Widodo, sebab menjadi catatan sejarah Indonesia yang kali pertama melakukan ekspor kapal jenis perang.



"Kita masih menunggu konfirmasi dari beliau (presiden), sebab peluncuran atau 'launching' ini sekaligus menjadi bagian dari uji coba pertama bagi kapal perang buatan anak bangsa," kata Edy seperti ditulis Antara, Selasa (29/12).

Dalam peluncuran nanti, kapal perang canggih itu akan diuji coba untuk mengapung di laut, serta kekuatan daya tahan kapal terhadap musuh, ditambah fungsi sejumlah peralatan canggih yang ada di dalam manifest kapal.

"Setelah peluncuran, kemudian kita sempurnakan dengan melakukan pengecatan sesuai pemesan dan menyambung lagi beberapa komponen peralatan listrik," ucapnya.

Dengan begitu, kata Edy, satu unit kapal tersebut akan siap diserahkan secara resmi kepada pemerintah Filipina pada Mei 2016.

Baca:

Dalam peluncuran itu akan dilakukan beberapa agenda besar, seperti peluncuran kapal jenis Perusak Kawal Rudal (PKR) pesanan TNI Angkatan Laut, serta peletakan blok kapal perang kedua pesanan Filipina.

"Filipina memesan dua unit kapal perang 'Landing Platform Deck' (LPD) jenis SSV kepada Indonesia. Pada saat peluncuran, kapal pertama kita lakukan peletakan blok untuk pesanan tahap kedua," katanya.

Kapal pesanan Filipina itu didesain dengan panjang 123 meter, lebar 21,8 meter dan mampu mengangkut 500 pasukan serta bobot hingga 10.300 ton, serta mempunyai kecepatan atau dapat melaju selama 30 hari dengan jarak 9.360 mil laut dengan kecepatan maksimal 16 knot.

Selain itu, kapal perang buatan anak negeri tersebut juga mampu membawa dua helikopter, dan mengangkut kapal "landing craft utility" (LCU) serta sejumlah tank perang hingga truk militer.

SUMBER : BERITAMIDAS.COM

Mengintip Kekuatan Dan Kesiapan Militer Turki Hadapi Ancaman (Foto)

Profile pasukan Turki. Presentasi berupa gambar-gambar. Kami gabungkan dengan tulisan Ustadz Nandang Burhanudin. Negara Turki adalah negara yang otomatis dikelilingi wilayah bermasalah, sejak negara-negara tetangganya terlibat konflik, mulai dari Krisis Cyprus, Bosnia, Serbia, Kossovo, Chechnya, Yunani, Israel, Palestina, Lebanon, Georgia, Ukraina, Iraq, Suriah, ISIS, pemberontak komunis PKK dan sekarang Rusia. Belum rongrongan pihak oposisi internal dalam negeri.



Karena itu Angkatan bersenjata Turki adalah kekuatan yang saat ini sedang digarap untuk memasuki level kekuatan yang besar.
.
Turki dan Pengucilan
Nandang Burhanudin

(1) Menjadi putih di tengah kelam hitam adalah nista. Perhatikan peci hitam saat ada warna putih menempel. Disingkirkan bukan?

(2) Turki benar-benar berada di posisi putih. Namun dunia terlampau kelam. Erdogan dibuat salah tingkah.

(3) Ancaman Rusia ternyata bukan main-main. Sejarah masa lalu Otthoman vs Kekaisaran Rusia, kini kembali di panggung modern.

(4) UE dan AS membiarkan Rusia menguasai kembali Crimea dan memberi keleluasaan Rusia di laut Hitam.

(5) AS dan UE pun berpangku tangan ketika Rusia show of force di Syiria. Tanpa pernah menyentil walau dengan kata-kata.

(6) Hal yang sama dengan Iran. Negara yang di awal revolusi selalu mengatakan Rusia nista, AS setan besar. Tapi kini?

(7) Iran leluasa memperkaya uranium. Rusia menjadi back up utama Iran dalam hal logistik, senjata, dan teknologi.

(8) Bacalah sejarah. Iran dan Rusia adalah negara pengganggu Kekhalifahan Utsmani.

(9) Barat selalu bermika dua. Di depan mendukung Turki. Di belakang menelikung dan menikam terhujam

(10) Belum ancaman ISIS yang semakin mengincar Turki. Senjata ISIS canggih. Mereknya dari AS dan Rusia.

(11) Turki sibuk mencari teman. Namun dunia kelam tak lagi terbuka untuk menjadi teman.

(12) Bergabung dengan koalisi negara Muslim. Tapi Turki dihadapkan pada fakta: Mesir, Emirates Arab adalah negara yang menjadikan IM sebagai teroris.

(13) Padahal yang ditentang Turki adalah: 1. Dikatorisme Assad. 2. Kudeta berdarah AsSisi di Mesir. 3. Kebiadaban Israel di Palestina.

(14) Maka. Jangan salahkan bila Turki masih setia dengan perjanjian-perjanjian Turki di masa lalu. Baik masa Otthoman maupun masa Kemal AtTatruk.

(15) Bayangkan. Apa jadinya bila Turki bukan anggota NATO? Bayangkan bila Turki tidak menjaga hubungan baik dengan AS, Inggris.

(16) Turki masih perlu waktu untuk menjadi negara superpower lagi. Saat ini, sekadar bisa bertahan dari gempuran ISIS, Rusia, pemberontak PKK, ancaman Iran, dan kepongahan Israel sudah luar biasa.

(17) Jangan nyuruh-nyuruh dulu Turki memerangi Israel. Selama tetangga-tetangga Turki dan umat Islamnya, masih berprinsip; "Erdogan. Pergi dan seranglah. Di sini kami diam."



Kendaraan Panser ACV Buatan FNSS Turki yang dapat berjalan di air





Wahana Tanpa Awak Mini (Mini UAV) buatan Turki BAYRAKTAR





Perangkat Manajemen Tempur "Genesis" rancangan Turki di dalam Kapal Perang Modern





Bom Thermobarik, dengan asas kerja menghisap udara (vacuum) dan menyebarkan pembakar, Turki sudah mampu membuat dan mempunyai Bom Thermobarik dalam inventaris persenjataannya





Roket Balistik Yildirim, saat ini Turki sudah mempunyai Roket yang berjarak jangkau 2.500 Km



*sumber: Sahabat Erdogan
Diberdayakan oleh Blogger.