defersite

Menelisik Perbandingan Militer Indonesia Belanda Hari Ini yang Bagai Bumi dan Langit

Membandingkan militer Indonesia dan Belanda di masa lalu sama dengan membicarakan dagelan yang lucu sekali. Ya, alasannya tak lain karena kita dan mereka sama sekali tak sebanding. Belanda adalah negara penjajah yang luar biasa dan kita ya begitu-begitu saja. Dan bukti kalau mereka jauh lebih kuat tentu adalah penjajahan yang sedemikian lama itu.

Namun, ketika waktu berganti, segalanya pun ikut berubah. Militer Belanda yang dulu bagi Indonesia adalah bak seekor monster, kini tak lebih dari seorang bocah. Ya, angkatan perang kita saat ini melampaui jauh si negeri tulip. Dari data yang disusun Global Fire Power, diketahui Belanda saat ini berada di peringkat 35 dunia dan kita ada di posisi 14.

Hari ini kita sangat kuat kalau dibandingkan dengan Belanda. Bahkan seumpama kita balik invasi mereka, kemungkinan berhasilnya lebih dari 50 persen dengan catatan masing-masing negara berdiri di atas kekuatan sendiri. Untuk mengetahui perbedaan kekuatan Indonesia dan Belanda saat ini, berikut adalah ulasan tentang komparasinya.
Indonesia Menang Telak Soal Jumlah Tentara

Bukan bermaksud untuk sombong, namun pada kenyataannya kalau soal tentara kita jauh lebih unggul dari Belanda. Tak hanya dilihat dari jumlahnya saja, tapi juga kualitas yang dimiliki. Tentang jumlah, Indonesia memiliki tentara yang jauh lebih banyak alias berlipat-lipat dari Belanda. Ya, hari ini mereka hanya memiliki sekitar 50 ribuan tentara aktif, sedangkan kita mempunyai 476 ribu serdadu siap perang.Tentara Belanda vs Indonesia

Tak hanya jumlah, Indonesia juga unggul soal kualitas. Hal ini terbukti dari beragam prestasi yang ditorehkan oleh para tentara kita di berbagai ajang dunia. Belanda mungkin juga cukup berprestasi, namun masih kalah jauh dibanding Indonesia. Tak hanya lewat prestasi, bukti kualitas tentara kita juga dilihat dari begitu banyaknya pasukan elit yang dimiliki, macam Denjaka, Sat-Bravo, Kopaska, dan lain sebagainya yang masing-masingnya sudah mendapatkan pengakuan dunia.
Kekuatan Darat Indonesia Jauh Lebih Tangguh

Jika di ranah tentara kita menang telak, lalu bagaimana dengan kekuatan darat? Ya, sama sekali tak ada bedanya alias kita masih unggul jauh. Hal ini dibuktikan dari koleksi alutsista darat kedua negara yang begitu jauh terpautnya.Kekuatan darat Belanda vs Indonesia

Soal tank misalnya, Indonesia memiliki sekitar 468 buah, sedangkan Belanda sama sekali tidak punya. Serius, kalau tidak percaya silakan telusuri datanya di Global Fire Power. Meskipun begitu, Belanda memiliki sekitar 979 buah kendaraan taktis. Namun, kita tetap unggul di situ karena memiliki sekitar 1.089 buah dan masih bisa produksi lebih banyak lagi.
Kekuatan Udara Kita Setara dengan Mereka

Soal tentara dan kekuatan darat kita menang jauh, namun lain soal daya udara. Ya, di ranah ini siapa sangka kalau Belanda ternyata cukup kuat. Hal ini lagi-lagi bisa kita lihat dari jumlah alutsista yang dimiliki oleh masing-masing negara.

Kekuatan udara Belanda [Image Source]

Misalnya pesawat tempur, Belanda ternyata unggul dari kita dengan jumlah 66 buah sedangkan Indonesia hanya 58 saja. Pun demikian dengan helikopter serbu, mereka memiliki 27 buah dan Indonesia hanya 5 saja. Meskipun demikian, kita cukup unggul untuk pesawat transportasi dengan memiliki 170 buah sedangkan mereka hanya 45 saja.


Kekuatan Laut Kita dan Mereka Cukup Berimbang

Sama halnya seperti kekuatan udara, dalam hal daya laut ternyata kita dan mereka cukup berimbang walaupun Indonesia bisa dibilang lebih unggul sedikit. Kalau dilihat dari alutsistanya, beberapa kita unggul. Misalnya jumlah Corvette yang totalnya 10 buah sedangkan mereka 0 alias tak punya, serta kapal patroli yang mana kita memiliki 66 buah sedangkan mereka hanya 4 saja.Perbandingan kekuatan laut Indonesia vs Belanda

Meskipun unggul, tapi Indonesia kalah jumlah kapal selam. Ya, mereka ternyata memiliki 4 buah, sedangkan Indonesia hanya 2 saja. Walaupun demikian, rencananya pemerintah bakal menganggarkan dana untuk kapal selam. Sehingga dalam waktu dekat jumlahnya mungkin akan sama dengan Belanda atau bahkan lebih.

Penjajah tak selamanya jemawa, ungkapan ini pas untuk menggambarkan kondisi Belanda sekarang. Dulu mereka bagai monster, tapi hari ini bukan siapa-siapa. Meskipun demikian, kita juga tak boleh terlalu sombong dan congkak. Pasalnya, Belanda sendiri ada andil dalam membentuk kekuatan militer kita di masa lalu. Sumber: Boombastis.com

Rusia Tingkatkan Alat Sistem Komunikasi Militer

Pemerintah Rusia akan memberikan 244 alat sistem komunikasi dengan teknologi terbaru, kepada Angkatan Darat mereka. Rencananya, pemberian alat komunikasi tersebut akan direalisasikan pada akhir tahun 2016.

Kepala Staf Angkatan Darat Rusia Mayjen Alexander Galgash mengatakan, diharapkan dengan alat sistem komunikasi terbaru ini mampu meningkatkan kordinasi prajurit di lapangan agar cepat mendapatkan informasi.

“Sesuai dengan pesanan kementerian pertahanan, sebanyak 244 sistem komunikasi termutakhir direncanakan akan dikirim ke Pasukan Sinyal Komunikasi. Pengiriman ini akan meningkatkan persentase teknologi komunikasi yang terbaru hingga 45 persen, dan pada 2020 ditargetkan mencapai lebih dari 70 persen,” ujar Galgash, kepada radio Life Zvuk, Minggu (23/10/2016).

sumber : militer meter

Ini Gadis Pertama yang Kenakan Hijab di Sekolah Militer, AS

Sampai saat ini, dunia barat sangat rentan terhadap kasus diskriminasi terhadap kaum muslim atau sering disebut juga dengan islamophobia. Namun, semua itu tidak menjadi masalah untuk Sana Hamze.

Sana Hamze jadi muslimah pertama yang diizinkan memakai hijab di sekolah militer di Vermont, Amerika Serikat. Gadis lulusan Universitas Norwich itu, kini tengah menempuh pendidikan di sekolah militer swasta tertua di AS.

"Saya tidak memandang diri saya sedang mengubah dunia atau mengubah Amerika," kata gadis 18 tahun asal Fort Lauderdale, negara Bagian Florida itu, seperti dilansir koran the Daily Mail, Senin (17/10).

"Saya tidak memandang diri saya sedang mengubah dunia atau mengubah Amerika," kata gadis 18 tahun asal Fort Lauderdale, negara Bagian Florida itu, seperti dilansir koran the Daily Mail, Senin (17/10).

"Saya melihatnya ini hanya soal sebuah sekolah yang mengizinkan seorang siswanya menjalankan pratik agama sekaligus menempuh pendidikan untuk menjadi tentara Angkatan Laut," lanjut dia.


Sana Hamze

Dengan mengikuti sekolah militer Hamze rupanya ingin meneruskan jejak keluarganya yang berasal dari keluarga militer. Awal tahun ini ketika mendaftar ke Norwich dia sudah meminta izin akan mengenakan hijab sebagai bagian dari keyakinannya dan permohonannya dikabulkan.

Awalnya dia ingin masuk ke Charleston, kampus militer di South Carolina, tapi permohonannya untuk memakai hijab ditolak.
Nenek buyut Hamze dulunya tentara Angkata Udara dan nenek-kakeknya waktu itu bertemu ketika bertugas di Puerto Rico sebagai tentara Angkatan Laut dan ayahnya adalah polisi di Florida.

"Saya tahu apa yang saya lakukan adalah untuk melindungi negara. Saya bergabung di ketentaraan untuk melindungi negara," kata dia. (Ref: sandk, merdeka.com, dailymail.co.uk)

Vietnam Tolak Perairannya Dijadikan Pangkalan Militer Rusia

Keinginan Rusia untuk menghidupkan kembali pangkalan militer Uni Soviet di luar negeri harus dikubur. Sebab, salah satu negara yang disebut-sebut akan menjadi tempat didirikannya markas itu, Vietnam menolak usulan Negeri Beruang Merah tersebut.

Penolakan ini disampaikan sehari setelah Rusia menyampaikan pertimbangannya untuk membuka pangkalan di dua negara, yaitu Vietnam dan Kuba.

Terkait hal itu, Vietnam pun bereaksi. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Le Hai Binh menegaskan, hal tersebut tak sesuai dengan kebijakan dalam negeri negaranya.



"Vietnam selalu konsisten dengan kebijakannya yaitu tidak mau terikat atau bersekutu dengan negara lain untuk melawan sesama negara di dunia," sebut Le seperti dikutip dari Reuters, Kamis (13/10/2016).

"Kami juga tidak akan mengizinkan negara manapun membuka pangkalan militer di Vietnam," lanjut dia.

Dalam sejarah, daerah di Negeri Paman Ho, tepatnya di perairan Cam Ranh, sempat dijadikan pangkalan militer Uni Soviet. Hal ini berlangsung saat terjadinya Perang Dingin.

Ketika Uni Soviet runtuh, Rusia menutup semua pangkalan militer tersebut. Mereka pun mulai mengurangi kehadirannya militernya di seluruh dunia.

Cam Ranh dikenal sebagai salah satu tempat strategis yang saat ini dimanfaatkan oleh militer Vietnam. Selain Rusia, kawasan ini juga pernah dijadikan pangkalan militer AS.

Lautan di sana dikenal begitu dalam. Sehingga saat perang dingin berlangsung kapal selam Uni Soviet kerap beroperasi di perairan itu. Sumber: Liputan6

Kementerian Pertahanan Tetap Ingin Beli Senjata Meski Anggaran Dipotong

Anggaran untuk Kementerian Pertahanan kena potong triliunan rupiah. Namun rencana pembelian alat utama sistem persenjataan (Alutsista) baru bakal tetap dipertahankan.




"(Usulan anggaran untuk 2017) Rp 104 triliun. Dipotong," kata Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu jelang rapat di Komisi I Gedung Nusantara II DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (13/10/2016).

Sebagaimana diketahui, pemotongan untuk Kementerian Pertahanan sebesar Rp 7,933 triliun. Pemotongan ini dilakukan karena pemerintah melakukan penghematan. Pemotongan ini berdasarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 8 Tahun 2016 tertanggal 26 Agustus 2016.

Ryamizard menyatakan pihaknya tetap fokus untuk menyediakan Alutsista dalam bentuk penambahan alat baru. Soalnya, persenjataan militer Indonesia terbilang banyak yang uzur.

"Penyediaan alat, nambah alat baru. Lihat saja yang tua-tua itu (alutsistanya), umurnya 30 hingga 40 tahun," tutur Ryamizard.

Konkretnya, kata dia, Alutsista baru yang direncanakan dibeli adalah pesawat tempur dan tank. Dia belum merinci lagi pesawat dan tank jenis apa dan dari mana yang akan dibeli.

"Pesawat lah. Ada tank, segala macam, pokoknya diganti," ujarnya.

Tak lama berselang, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmatyo datang. Dia hanya singkat berbicara sambil bergegas masuk ruang rapat Komisi I DPR, menyatakan tak ada pembelian alutsista yang dibatalkan gara-gara pemotongan anggaran.

"Enggak ada yang dibatalkan. Paling ditunda," ucap Gatot.
(dnu/erd) Sumber: Detik

Yang Direvisi dalam Belanja Militer RI Tahun 2017

Jakarta – Kementerian Keuangan mengusulkan pemotongan anggaran bagi Kementerian Pertahanan sebesar Rp 2,5 triliun dari Rp 104,4 triliun menjadi Rp 101,9 triliun di Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2017. Namun, pemangkasan anggaran ini diyakini tidak akan mengganggu kinerja Kemenhan.



“Tadi Bu Menkeu tidak hadir, jadi tidak ada keputusan dan akhirnya pembahasan anggaran tahun depan, ditunda. Karena keputusan hanya dari beliau, tidak bisa diwakilkan,” ujar Menteri Pertahanan (Menhan), Ryamizard Ryacudu di Gedung DPR, Jakarta, (10/10/2016).

Terkait pemotongan anggaran Rp 2,5 triliun di 2017, Ryamizard optimistis tidak akan mengganggu kinerja ?Kemenhan, khususnya dalam menjalankan program-program prioritasnya untuk bangsa dan negara.

“?Prioritas kami kesejahteraan, pergantian alutsista yang sudah tua, melengkapi arsenal pesawat yang kurang, contohnya bom atau rudal. Jadi tidak ada masalah,” ujar Ryamizard.

Ryamizard menuturkan, anggaran yang dipotong bukan untuk program atau kegiatan mendesak. Kegiatan mencegah terorisme, penanggulangan bencana alam termasuk di daerah perbatasan, akan menjadi prioritas.

“(Pemotongan anggaran) untuk kegiatan yang tidak mendesak, tapi alat berat untuk bencana di perbatasan masuk kategori mendesak. Untuk ke depan belum ada perang besar-besaran, apalagi 1-2 tahun tidak ada. Ancaman nyata seperti : teroris, bencana alam itu yang didahulukan ,” ujar Ryamizard.

Menteri Pertahanan mengatakan pembelian alutsista tahap II. “Sukhoi ganti, tapi tidak banyak. Kita tentara rakyar, semua yang diperjuangkan untuk rakyat dan kepentingan rakyat harus didahulukan,” tuturnya.

Kemenkeu memangkas anggaran sebesar Rp 2,5 triliun dari Rp 104,4 triliun menjadi Rp 101,9 triliun. Fokus belanja untuk pengadaan alutsista, peralatan perang, pesawat tempur yang menjadi target pelaksanaan 2017.

“Mudah-mudahan hanya penajaman saja karena masih ada yang belum optimal. Kemenhan tahu mana yang harus dikendalikan,” ujar Dirjen Anggaran Kemenkeu, Askolani.

Sumber : Liputan6.com

Hal Menakjubkan Iringi Pasukan Elite TNI AD Kopassus Sambut Komandan Baru

Tampuk pimpinan pasukan elite Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD resmi berganti. Brigjen TNI Madsuni Sabtu (8/10) dikukuhkan sebagai orang nomor satu di jajaran korps baret merah -sebutan lain Kopassus. Dia menggantikan Mayjen TNI M. Herindra. 



Pengukuhan dirinya sebagai Danjen Kopassus tersebut dilakukan dalam upacara serah terima tongkat Danjen Kopassus di Lapangan Markas Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur (Jaktim) pagi kemarin.

Masyarakat Cijantung begitu antusias menyaksikan upacara serah terima jabatan tersebut. Pasalnya, sebelum acara serah terima, dipertontonkan sejumlah atraksi menakjubkan yang dari para anggota Kopassus. Di antaranya terjun payung, baris berbaris, bela diri Yong Moodo, dan marching band.

Usai menyaksikan atraksi, Mayjen M. Herindra memasuki lapangan upacara bersama Brigjen Madsuni. Saat penyerahan pasukan Herindra mengatakan bahwa serah terima pasukan Kopassus kemarin adalah kelanjutan dari serah terima jabatan di Mabes AD pada Jumat kemarin (7/10) oleh Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Mulyono.

“Saya mohon diri dan minta restu agar dapat mengemban tugas berikutnya sebagai Panglima Kodam III/Siliwangi,” ujar Herindra dalam sambutannya.

Herindra juga sempat menyampaikan rasa bangganya kepada Kopassus. Dia berpesan agar pasukan khusus TNI AD tersebut meningkatkan kemampuannya untuk menghadapi ancaman yang semakin kuat. “Belajar itu mutlak,” ucapnya.

Sementara itu, Madsuni yang kini menjadi Danjen ke-29 Kopassus. (dod) Jawapos

Indonesia Tertarik Beli Pesawat Angkut Militer Terbaru Buatan Rusia

Indonesia tertarik membeli pesawat angkut militer Il-76MD-90A buatan Rusia. Demikian hal ini diutarakan Wakil Direktur Umum Rosoboroneksport Sergey Goreslavskii, Selasa (27/9).

"Indonesia tertarik untuk memperbarui armadanya dengan pesawat angkut militer," kata Goreslavskii pada kesempatan presentasi buku "Rusia-Indonesia: Tonggak Kerja Sama" di Kementerian Luar Negeri Rusia.

Goreslavskii menjelaskan mengenai ketertarikan Indonesia pada pesawat Il-76MD-90A terbaru dan pesawat amfibi Be-200 Rusia.

Menurut wakil kepala Rosoboroneksport, diskusi terkait pesawat tersebut pertama kali berlangsung dengan delegasi dari Kementerian Pertahanan Indonesia pada acara "Gidroaviasalon" yang sebelumnya diadakan di Gelendzhik, Rusia. Diharapkan di masa depan konsultasi dengan para ahli Rusia akan terus berlanjut dan perwakilan dari pihak Indonesia dapat mengunjungi pabrik pembuatan pesawat.

"Kami berharap agar ketertarikan pihak Indonesia terhadap pesawat Rusia tetap terjaga," kata Goreslavskii menambahkan. Sumber https://indonesia.rbth.com/news/2016/09/28/indonesia-tertarik-beli-pesawat-angkut-militer-terbaru-buatan-rusia_634121

Pertama kali dipublikasikan oleh TASS.

Swedia akan perkenalkan kembali wajib militer mulai 2018

Stockholm - Swedia mengatakan pada Rabu bahwa mereka akan memperkenalkan kembali wajib militer mulai 2018, delapan tahun setelah dihapuskan.



Negara Skandinavia tersebut, yang tidak pernah dilanda konflik bersenjata di teritorialnya dalam dua abad terakhir, menghentikan wajib militer pada 2010 setelah hal itu dianggap bukan cara yang memuaskan untuk memenuhi kebutukan angkatan darat moderm.

"Saya harap kita akan menemukan jalan untuk cara perekrutan yang lebih stabil, kuat dan fungsional," kata Menteri Pertahanan Peter Hultqvist dalam konferensi pers, seperti dilansir AFP.

Kebijakan baru tersebut akan berpengaruh pada warga Swedia yang lahir setelah 1999, menurut sebuah laporan dari mantan anggota parlemen untuk Kementerian Pertahanan.

Langkah itu diduga akan disahkan parlemen, di bawah perjanjian antara pemerintah sayap kiri dengan oposisi tengah kanan.

Sekitar 4.000 pemuda Swedia, baik laki-laki maupun perempuan berusia 18 tahun, diperkirakan akan dipanggil tiap tahunnya. Sumber Antaranews

Panglima TNI Imbau Tidak Ada Tindakan Provokatif di Laut China Selatan

TNI mempunyai strategi tersendiri untuk menghadapi konflik beberapa negara di wilayah Laut China Selatan. Mereka juga akan memperkuat pangkalan militer di pulau-pulau terluar, termasuk di Pulau Natuna.



Panglima TNI, Jendral Gatot Nurmantyo mengatakan, pemerintah Indonesia mempunyai dua strategi menghadapi berbagai kemungkinan terjadinya terkait konflik di Laut China Selatan.

"Kami mengimbau kepada semua pihak dan bertekat mewujudkan Laut China Selatan damai dan stabil, kemudian mengimbau semua pihak tak melakukan kegiatan-kegiatan yang bisa merusak stabilitas di Laut China Selatan," kata Gatot usai berziarah ke makam Presiden RI ke empat, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di Ponpes Tebuireng, Kabupaten Jombang, Selasa (27/9/2016).

Selain itu, untuk menjaga kedaulatan NKRI, lanjut Gatot, TNI akan memperkuat pangkalan militer di Pulau Natuna dan pulau-pulau terluar lainnya yang dipandang strategis.

"Pembangunan pangkalan TNI tak hanya di Natuna. Atas petunjuk Presiden (pangkalan TNI) di pulau-pulau terluar strategis, Natuna, Morotai, Biak, Merauke akan dibangun," tandasnya.

Konflik di Laut China Selatan semakin memanas setelah China mengklaim sebagian besar wilayah Laut China Selatan ke dalam teritorialnya. Klaim tersebut membuat China terlibat sengketa wilayah dengan sejumlah negara ASEAN, seperti Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, dan Vietnam.
(tfq/tfq) Sumber Newsdetik

Pangkalan Militer Natuna 2017 Segera Diwujudkan, TNI siap dengan segala Kemungkinan

Panglima TNI Jendral TNI Gatot Nurmantyo memastikan TNI siap menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi terkait Laut China Selatan. Oleh karena itu pihaknya terus mempercepat pembangunan pangkalan TNI di pulau terluar.

Hal tersebut, disampaikan Panglima TNI, Jenderal TNI Gatot Nurmantyo saat melakukan Ziarah makam Gus Dur (Abdurrahman Wahid) di Ponpes tebu Ireng Jombang, Jawa Timur (27/9).


Pangkalan TNI di pulau terluar seperti yang dimaksudkan Panglima TNI tidak hanya di Natuna, namun juga di pulau-pulau terluar lainnya, seperti morotai, biak, merauke dan Saumlaki-Selaru. “Pembangunan pangkalan TNI di pulau-pulau terluar ini ditentukan berdasarkan skala prioritas, Seperti meningkatnya kepentingan pengamanan perbatasan terluar Pulau Natuna yang bersinggungan dengan Laut China Selatan, Otomatis akan didahulukan,” tegas Panglima TNI.

Bahkan jika diperlukan, tambah Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, TNI siap atas berbagai kemungkinan yang terjadi dengan Laut China Selatan (LCS) termasuk jika muncul konflik dengan Tiongkok.

Namun demikian, Panglima TNI, Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, menghimbau kepada semua pihak agar saling menjaga Laut China Selatan kondusif dan damai.

“Demi stabilitas Laut China Selatan, Kami menghimbau agar semua pihak tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang bisa mengganggu dan merusak instabilitas Laut China Selatan,” paparnya kepada jakartagreater.



Menurut Gatot, pembangunan akan dimulai pada akhir tahun 2016. Pada tahun 2017, diharapkan ada perkembangan pembangunan di sejumlah kawasan tersebut.

Selain itu, pemerintah juga perlu membangun dermaga yang dapat disinggahi oleh sejumlah Kapal Republik Indonesia (KRI) untuk menjaga keamanan perairan. Gatot mengatakan, pemerintah juga perlu menambah radar untuk memantau wilayah di seluruh kawasan perbatasan.

Selain itu, yang perlu diperbaiki tambah Panglima TNI di Natuna adalah perpanjang Runway Lanud Ranai dan tempat pesawat tempur ground support equipment.

Menurut Gatot, pemerintah perlu membangun dermaga yang dapat disinggahi oleh sejumlah Kapal Republik Indonesia (KRI) untuk menjaga keamanan perairan serta menambah radar untuk memantau wilayah di seluruh kawasan perbatasan.


Wilayah Kepulauan Natuna menjadi strategis karena merupakan wilayah Indonesia yang berbatasan langsung dengan Malaysia, Vietnam, dan Kamboja.

Wilayah ini juga merupakan wilayah laut Indonesia yang menjadi jalur utama pelayaran global, terutama bagi kapal-kapal yang hendak menuju Hong Kong, Jepang, dan Korea Selatan.

Pengembangan Natuna menjadi sebuah keharusan dan juga prioritas utama bagi pemerintah Indonesia, bukan saja karena Presiden Jokowi ingin perbatasan sebagai beranda terdepan Indonesia, melainkan juga ingin mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia. (marksman) Jakarta Greater

Rudal Yang Dibeli dari Cina Telat Meluncur, Pakar Militer: Cina Ingin Lemahkan Indonesia!

Insiden telat luncur rudal C705 buatan China pada latihan perang TNI AL, Armada Jaya XXXIV 2016 di Perairan Banongan, Situbondo, Jatim (14/09) mengindikasikan adanya upaya pelemahan TNI oleh pihak China.



Sinyalemen itu dilontarkan pengamat politik Ahmad Baidhowi kepada intelijen (15/09). “Insiden rudal telat meluncur di hadapan Presiden Jokowi mengindikasikan adanya skandal pembelian alutsista asal China. Hal itu juga menjadi sinyal terkait upaya China yang sengaja melemahkan militer RI,” ungkap Ahmad Baidhowi.

Menurut Baidhowi, secara logis, China tidak ingin Indonesia mempunyai armada yang kuat, terlebih lagi ada sengketa di wilayah Laut China Selatan. “China akan rugi jika Indonesia punya armada laut yang kuat, maka dibuatkan rudal model ‘kw’,” beber Baidhowi.

Ahmad Baidhowi menilai, kegagalan peluncuran rudal itu sangat memalukan bagi bangsa Indonesia. “Komisi I harus segera memanggil KSAL, Panglima TNI untuk membahas persoalan ini. Kasus ini terkait masalah kedaulatan bangsa,” papar Baidhowi.
Kata Baidhowi, insiden itu semakin menunjukkan upaya China untuk menguasai Indonesia. “Indonesia jangan hanya senyam-senyum saja. Bisa jadi peralatan tempur dari China kualitasnya abal-abal,” pungkas Baidhowi.
Panitia Latihan Perang TNI AL Armada Jaya XXXIV 2016 masih melakukan evaluasi menyeluruh terkait insiden keterlambatan meledak rudal C705.(ts/inteljn)

Danpussenkav Thailand Mengapresiasi Produk Pertahanan Pindad

Royal Thai Army Cavalry Center melakukan kunjungan ke PT Pindad untuk melihat dan mencoba performa senjata buatan BUMN tersebut, pada hari Rabu (7/9) lalu. Kunjungan yang dipimpin oleh Commanding General of Thai Cavalry Centre (Danpussenkav Thailand), MG Veerayut Vurtsiip, ini bertujuan untuk melihat proses produksi industri pertahanan Indonesia.




Veerayut mengapresiasi kemampuan Pindad dalam menghasilkan berbagai produk industri pertahanan seperti senjata, munisi, maupun kendaraan khusus. Ia juga tertarik dengan senjata buatan Pindad yang sering menjuarai berbagai kompetisi menembak internasional seperti Australian Army Skills at Arms Meeting (AASAM), ASEAN Armies Rifle Meet (AARM), dan Brunei International Skill Arms Meet (BISAM).

“Pindad luar biasa bisa membuat produk secara mandiri di dalam negeri yang sudah bagus, khususnya di kawasan Asia Tenggara,” ujar Veerayut.

Rombongan Royal Thai Army juga mengunjungi fasilitas produksi Divisi Kendaraan Khusus dan Divisi Senjata. Mereka mendapat kesempatan untuk mencoba berbagai senjata buatan Pindad, termasuk SS2 V4 yang sering memenangkan sejumlah perlombaan menembak tingkat internasional. Senjata lain yang dicoba oleh rombongan ini adalah SPR 2 dan SPR 3.

Sumber: Pindad dikutip dari JakartaGreater

Seberapa kuat TNI AU dibanding Angkatan Udara Malaysia & Australia?

Memasuki era reformasi, TNI AU terus berbenah diri. Salah satu fokus angkatan ini adalah memperkuat kualitas tempur mereka dengan membeli alutsista baru dari sejumlah negara.

Saat ini, TNI AU telah memiliki 7 skadron tempur, 4 skadron pesawat angkut dan 3 skadron helikopter. Untuk radar, TNI AU telah memiliki 22 radar di seluruh Indonesia. Namun, jumlah ini belum memenuhi minimum essential force yang dibutuhkan.



“Idealnya kita memiliki restra untuk sampai 2024, berbasis minimum essential force. Untuk skadron tempur misalnya, kita butuh 11, sehingga masih perlu 4 skadron lagi. Angkut butuh enam, masih kurang dua dan heli butuh empat tapi baru punya dua. Sementara radar kita butuh 32, sekarang baru 22, itu baru kekuatan minimum, bukan kekuatan ideal,” papar Kadispenau Marsma Hadi Tjahjanto saat berbincang dengan merdeka.com, Rabu (8/4) kemarin.

Jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga, yakni Malaysia dan Australia, kekuatan yang dimiliki Indonesia sudah cukup memadai. TNI AU sudah memiliki sumber daya manusia yang siap melaksanakan misi, termasuk alutsista berkualitas seperti pesawat Sukhoi dan F-16.

“Kalau melihat dari latihan-latihan dengan Australia, kita mampu untuk bisa menandingi dia. Itu kualitas kita,” ungkapnya,

Kini, TNI AU tengah berencana untuk mengganti pesawat F-5 Tiger dengan pesawat jenis baru generasi 4,5. Generasi terbaru ini dipercaya dapat membuat Indonesia mampu menghadapi segala ancaman dari negara asing.

Lalu, seperti apa sebenarnya kekuatan TNI AU dengan dua negara tetangga itu, berikut ulasannya:

1. Jet tempur
TNI AU sampai saat ini masih mengoperasikan 12 unit F-16 Fighting Falcon Block 15 A/B OCU. Indonesia akan menambah jumlahnya menjadi 24 buah dengan varian C/D 52ID. Selain produk barat, Indonesia juga memiliki pesawat buatan Rusia, antara lain 5 unit Sukhoi Su-27 SK/SKM dan 11 Su-30 MK/MK2. Selain itu, masih ada 16 unit jet tempur KAI T-50 Golden Eagle dan 12 unit EMB 314 Super Tucano.

Sementara, Angkatan Udara Australia diperkuat 24 unit F/A-18F Super Hornet dan 71 unit F/A-18A/B Hornet . Selain kedua pesawat itu, negara ini masih memiliki dua unit F-35A Lightning II yang digunakan sepenuhnya untuk pelatihan.

Sedangkan Malaysia diperkuat 18 unit Su-30MKM, 8 unit F/A-18 Hornet, 12 unit Mikoyan MiG-29, 20 unit BAE Hawk dan 18 unit Northrop F-5. Beberapa dari pesawat ini sempat menjalani modernisasi untuk meningkatkan kemampuan tempurnya di udara.

2. Jumlah personel
Dari sudut kekuatan personel, TNI AU memiliki 37.850 personel yang masih aktif berdinas. Hingga saat ini, Indonesia juga memiliki 510 pesawat, 110 di antaranya adalah pesawat tempur.

Sedangkan Australia tercatat memiliki personel aktif sebanyak 14.120 orang, dan 4,273 personel cadangan. Untuk alutsistanya, negara ini memiliki 265 pesawat, baik pesawat tempur, patroli maupun angkut.

Sementara, Malaysia memiliki personel aktif sebanyak 15 ribu orang. Menurut situs globalfirepower.com, Malaysia diperkirakan memiliki 217 pesawat, termasuk 97 jet tempur.

3. Indeks kekuatan
Meski hubungan antara Indonesia, Malaysia dan Australia cukup dekat, namun ketiga negara ini saling berlomba untuk memperkuat sistem pertahanan udaranya masing-masing.

Berdasarkan situs analisa kekuatan militer dunia, globalfirepower.com, Indonesia menempati posisi cukup baik yakni urutan ke-12. Rating kekuatan Indonesia sebesar 0,5231. Hal ini dinilai dari kekuatan udara, darat, dan laut. Selain itu jumlah personel dan kemampuan belanja pertahanan.

Sementara Australia berada satu tingkat dari Indonesia. Indeks kekuatan dari Negeri Kangguru sebesar 0,5281.

Dibanding kedua negara di atas, Malaysia justru berada di peringkat 35. Negara ini mendapat indeks kekuatan sebesar 0,9612.
Sumber : Merdeka.com

Koordinasi Tidak Jelas, Masyarakat Biak Numfor Tolak Pembangunan Pangkalan Militer

Pembangunan pangkalan militer di Kabupaten Biak Numfor Provinsi Papua mendapatkan penolakan dari warga setempat akibat masyarakat merasa pemerintah tidak melakukan koordinasi yang jelas.



“Dalam proses pembangunan ini pun tidak ada koordinasi antara pihak militer dengan masyarakat Biak selaku pemilik hak ulayat,” kata Jhon Mandibo, Ketua Forum Peduli Kawasa Biak kepada Antara, Selasa (23/8) kemarin.

Jhon menilai bahwa pembangunan pangkalan militer untuk wilayah Indonesia Kawasan Timur yang bertempat di Kabupaten Biak Numfor dapat menimbulkan banyak masalah termasuk membungkam kebebasan hidup masyarakat setempat.

Masyarakat yang tergabung dalam Forum Peduli Kawasan Biak tersebut juga mendesak pemerintah provinsi Papua untuk membentuk tim pansus dan menolak pengembangan pangkalan militer tersebut.

Sumber: HarianPapua

TNI AD Kembangkan Cat Antiradar dari Ban Bekas

Barang bekas sering kali dianggap sebagai benda tak berharga. Namun, pandangan tersebut berubah sejak Kolonel Punto bertugas di Korem 044 Palembang, Sumatera Selatan, pada Mei 2016.

TNI AD Kembangkan Cat Antiradar dari Ban Bekas


Dengan sebuah teknik khusus, ia menyulap ban bekas menjadi bahan cat antiradar. Meski masih dalam tahap uji coba, saat ini penemuan tersebut bakal terus dikembangkan.


"Ide dari Komandan Korem Kolonel Punto. Diambil dari ban bekas, dibuang kawat-kawatnya. Lalu kita proses," ujar Letkol Wahyu, kasi ops Korem 044 Palembang, saat memaparkan penemuan itu di Rakornis TMMD, di Balai Samudera, Jakarta Utara, Rabu (24/8/2016).

Wahyu memaparkan, karena dari ban bekas, serbuk cat antiradar itu pun berwarna hitam. Ia optimis jika sebuah bangunan atau kapal diolesi benda tersebut, maka radar musuh tidak akan bisa mendeteksi.

"Bangunan kita cat pakai (serbuk) itu tidak terdeteksi. Kapal juga," imbuhnya.

Sebelum diperkenalkan ke KSAD yang membuka Rakornis TMMD hari ini, Wahyu mengaku telah menguji temuan cat anti radar tersebut. Kala itu sebuah bangunan diolesi dan dicoba dideteksi dengan sebuah sinyal sonar. Namun, reaksinya justru menolak sinyal.

"Ini menolak sinyal. Baru kita uji pakai sinyal kita, pakai radar sonar," tandasnya.

Bikin Bangga, Tiga Jenderal NATO Akui Kehebatan Pasukan TNI

Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang terdiri dari tiga angkatan (matra) yaitu Angkatan Darat, Angkatan laut, dan Angkatan Udara, kehebatannya memang telah diakui oleh masyarakat dunia. Bahkan Jenderal (purn) Peter Pace (mantan Jenderal US Marine dan Gurun) ketika menjadi pembicara adalam acara talk show di TV ABC 13 mengungkapkan bahwa TNI adalah satu dari tiga kekuatan besar MARINIR dunia.





“Sekarang ada tiga kekuatan besar MARINIR dunia, dan Indonesia berada pada urutan nomor tiga,” jelas Jenderal Peter Pace. Ia pun secara tegas membantah adanya dugaan kalau penempatan US MARINE di Australia karena Amerika berencana ingin menyerang Indonesia.

"Penempatan US MARINE hanya untuk stabilitas kawasan di Asia Tenggara, jangan bermimpi USA berencana menyerang Indonesia meski USA adalah pimpinan NATO. Tidak pernah terpikir oleh pemimpin USA untuk menyerang Indonesia,” tegas Jenderal Peter Pace.

Dalam acara talk show tersebut tidak hanya Jenderal Peter Pace yang jadi pembicara, ada dua jenderal pensiunan NATO lainnya, yakni Jenderal (purn) Mike Jackson (pemimpin pasukan Inggris saat menyerbu Irak), dan Jenderal (purn) Tommy Franks (pemimpin Delta Force saat Operasi Badai Gurun).

Jenderal Peter Pace juga sempat mengakui bahwa pasukan Khusus Indonesia sering membuat pasukannya kewalahan. “Kita sering berlatih dengan Indonesia. Kita sadar bagaimana kemampuan pasukan khusus Indonesia, pasukan kita sering kewalahan dalam setiap latihan perang dengan Indonesia,” jelas Jenderal Peter Pace.

Bahkan Jenderal Mike Jackson sempat mengungkapkan bahwa tidaklah mudah untuk mengalahkan pasukan TNI Indonesia. "Meski Indonesia kekurangan senjata, tetap tidak mudah untuk menaklukkan Indonesia karena jika perang terjadi bukan hanya militernya yang maju perang, tapi rakyatnya juga pasti turut membantu untuk menghabisi lawan."

Sumber: http://www.bintang.com/lifestyle/read/2584622/bikin-bangga-tiga-jenderal-nato-akui-kehebatan-pasukan-tni

Pakar Sebut China Sengaja Provokasi Indonesia

Pakar hukum internasional menilai kekisruhan yang terjadi di perairan Natuna merupakan tindakan sengaja dari China untuk memprovokasi Indonesia. China bermanuver karena putusan pengadilan arbitrase di Den Haag dipredikasi membatalkan klaim China terhadap hampir seluruh kawasan Laut China Selatan. Pendapat itu disampaikan Melda Kamil Ariadno, seorang profesor hukum internasional di Universitas Indonesia. ”Pengadilan Tetap Arbitrase akan mengeluarkan vonis dan saya percaya itu akan membatalkan klaim China terkait nine-dash line (garis sembilan bidang).



Itulah mengapa China melakukan beberapa manuver,” ujarnya. Komentar Profesor Melda ini muncul setelah Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) mengunjungi Natuna bersama Menteri Luar Negeri Retno Lestari Priansari Marsudi, Menko Politik Hukum dan Keamanan Luhut Panjaitan dan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang terkenal dengan sikap kerasnya terhadap kapal asing pencuri ikan. Presiden Jokowi bahkan menggelar rapat kabinet di atas kapal perang Indonesia di perairan Natuna, yang sekaligus menjadi pesan yang ditujukan pada China bahwa Natuna bagian dari kedaulatan Indonesia. 

Ditanya apakah konflik Indonesia dan China atas insiden di Natuna, Melda mengatakan: "Ingat, ini bukan hanya kita yang membutuhkan China, namun China membutuhkan kita. Jadi kita perlu memiliki hubungan yang baik tetapi tidak harus datang dengan mempertaruhkan hak kedaulatan.” Indonesia dan China sudah tiga kali terlibat insiden di perairan Natuna. Yang terbaru, kapal perang Indonesia menembaki kapal nelayan China karena diduga mencuri ikan di Natuna. Alih-alih meminta maaf, Pemerintah China justru memprotes keras dan menyalahkan Indonesia yang dianggap menyalahgunakan kekuatan militer. China juga mengklaim, kapal nelayannya beroperasi di perairan tradisional mereka.

Indonesia yang tertarik untuk mendorong investasi asing dari China, sebelumnya telah mengecilkan pertengkaran maritim. Namun, kali ini Presiden Jokowi menyampaikan sikap tegas. Jokowi bahkan menuliskan pesan di buku tamu kapal perang Indonesia di Natuna, bahwa dia meminta militer Indonesia menjaga Natuna sebagai bagian dari kedaulatan Indonesia. Pesan itu ramai diperbincangkan publik di media sosial. ”Saya pikir itu adalah masalah besar,” kata Evan Laksmana, dari Pusat Studi Strategis dan Internasional di Jakarta, mengomentari kunjungan Jokowi ke Natuna, seperti dikutip Sydney Morning Herald, Jumat (24/6/2016). ”Hanya karena kami berkomitmen untuk menjaga hubungan baik dengan China, tidak berarti Indonesia bersedia untuk menjual perairan. Itulah keseimbangan Jokowi. Itu perlu dibuat jelas bahwa pulau-pulau dan perairan sekitarnya adalah milik kita,” katanya. (mas) Sumber: sindonews 

Indonesia Dapat ToT Besar, Jika Ambil Pesawat Eurofighter

Perusahaan bidang pertahanan, keamanan, dan ruang angkasa Inggris, BAE Systems, membuka peluang sebesar-besarnya bagi kerja sama dan transfer teknologi dengan Indonesia. BAE Systems siap membantu Pemerintah Indonesia meningkatkan kemampuan industri pertahanan stastegis dan berbagai sektor terkait lainnya.



Kepala Komunikasi BAE Systems Asia, Simon Astley, mengatakan hal ini saat berkunjung ke kantor redaksi Angkasa di Kebon Jeruk, Jakarta, Jumat (19/06/2016). Dalam kunjungannya, Simon Astley didampingi Diektur Regional BAE Systems Indonesia Michael Salkeld dan Pengembangan Bisnis Yunita Kresnawati.

Simon menjabarkan, sebagai sebuah negara yang besar dengan berbagai potensi yang dimiliki, Indonesia dapat meningkatkan kemampuan industri pertahanan strategisnya. Produk-produk alutsista untuk TNI nantinya dapat dibuat di dalam negeri dan Indonesia tidak harus membelinya lagi dari luar. “Tentu untuk tahap awal harus ada kerja sama terlebih dahulu dimana di dalamnya ada proses transfer teknologi dari negara pembuat alutsista,” jelas Simon Astley.

Kerja sama industri strategis yang menumbuhkan industri lokal, lanjutnya, mampu meningkatkan pendapatan negara dengan nilai yang cukup besar. Ia mencontohkan, kemitraan BAE Systems dengan Arab Saudi memberikan kontribusi 9,3 miliar riyal pada tahun 2014. “Setiap 10 pekerjaan baru yang dibuat oleh BAE Systems bersama partner di Arab Saudi, mendukung 46 pekerjaan lainnya,” jabar Astley.

Indonesia sendiri, di mata Bagi BAE Systems, bukanlah teman baru. Kerja sama pihak pabrikan dengan Indonesia sudah terjalin sejak lama, misalnya sejak TNI Angkatan Udara menggunakan pesawat tempur Hawk Mk.53 maupun Hawk 100/200 era 1980 dan 1990-an. Kemudian TNI Angkatan Laut sejak 2014 mengoperasikan tiga kapal fregat ringan multiperan (MRLF) KRI Bung Tomo -class buatan BAE System Maritime – Naval Ships.


Michael Salked memaparkan, dengan PT Dirgantara Indonesia BAE Systems terlibat dalam beberapa proyek sebagai subkontraktor perusahaan Airbus. “Kami tidak mengerjakan pembuatan rangka pesawat, tapi lebih kepada bidang avionika maupun sistem pendukung pesawat,” ujarnya. Reputasi BAE Systems di dunia terbilang bagus dan terpercaya, oleh karenanya perusahaan ini juga memenangkan tender peningkatan kemampuan (upgrade) pesawat tempur F-16 Fighting Falcon buatan Lockheed Martin di sejumlah negara pemakai.

Dalam hal kaitan dengan pesawat tempur Eurofighter Typhoon yang ditawarkan kepada Indonesia, BAE Systems terlibat misalnya dalam pembuatan helmet mounted display (HMD) Striker II. Helm digital ini sangat medukung kerja pilot mulai dari sisi kenyamanan pemakaian hingga fungsi penggunaannya dalam pertempuran. “Kami termasuk menawarkan transfer teknologi HMD ini kepada Indonesia bila Indonesia membeli Typhoon,” ungkapnya.

Proyek lain yang dikerjakan oleh BAE Systems di Indonesia meliputi kerja sama dengan PT Pindad dalam hal pembuatan perangkat lunak dan perangkat keras untuk Divisi Keamanan Siber (Cyber Security Division). Demikian juga kerja sama lain dengan PT LEN, PT PAL, dan lainnya.


BAE Systems di seluruh dunia memiliki karyawan sebanyak 83.400 orang. Pasar utama BAE Systems (International) Limited yang merupakan gabungan perusahaan-perusahaan besar terdahulu, saat ini tedapat di Inggris, Amerika, Australia, India, dan Arab Saudi. Negara-negara di kawasan Asia Tenggara menjadi target pasar terkininya. BAE Systems Asia berkantor pusat di Kuala Lumpur, Malaysia dengan ditopang oleh 350 staf.

“Kami akan hadir nanti dalam penyelenggaraan Indo Defence 2016 bulan November di Jakarta. BAE Systems terbuka untuk melakukan kerja sama. Kami juga akan tampilkan produk-produk yang kami tawarkan,” tutup Astley.

Sumber : Angkasa.co.id

Indonesia Timur Hanya Punya 2 Kapal Selam, Minimal 6

Papua – Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengatakan, TNI Angkatan Laut tidak memiliki alat utama sistem senjata / alutista yang mumpuni di Indonesia bagian timur. Bahkan sampai saat ini TNI hanya memiliki dua unit kapal selam, untuk menjaga perairan Indonesia bagian Timur.



“Kapal selam jujur hanya punya dua. Satu diperbaiki, satu jalan,” ujar Jenderal Nurmantyo saat mengunjungi Pangkalan Angkatan Laut di Biak, Papua, Sabtu (30/4/2016).

Dengan dua unit kapal selam itu tentu saja sambung Panglima TNI, pihaknya tidak akan maksimal untuk mengawasi perairan Indonesia Timur. Apalagi, perairan di Indonesia bagian timur banyak bersentuhan dengan batas negara.

“Dua kapal selam itu ganti-gantian beroperasi. Sementara negara ini maritim dan besar,” lanjutnya.

Jenderal Gatot Nurmantyo menilai, minimalnya TNI AL harus memiliki setidaknya enam unit kapal selam di wilayah Indonesia bagian timur. “Penambanahannya kalau kami punya kesatuan yang mampu berperang sendiri saja minimal yang depan itu tiga dan di belakang tiga. Ya minimal enam,” ujar Panglima TNI.

Sumber : Fajar.co.id
Diberdayakan oleh Blogger.